Archive for Mei 16, 2009

9 Bulan Tunggu Imigran Florida



Sudah 4 bulan, buah mirip sawo itu menempel di cabang. Namun, tak ada tanda-tanda buah matang. Kulit masih berwarna cokelat tua kehijauan meski ukuran lebih besar daripada bola tenis. Buah terus membesar 2 bulan kemudian. Saat itulah Prakoso Heryono, pemilik pohon, tak sabar. Buah seberat 700 g itu dipetik dan diperam. Namun Prakoso kecele, buah tak pernah bisa matang.

Itulah pengalaman pertama kali Prakoso memetik mamey sapote-nama buah itu-dari pohon umur 2,5 tahun di kebun. Ia tak tahu umur buah matang dari tanaman yang dikirim temannya, Maurice Kong, dari Florida, Amerika Serikat. Prakoso nekat memetik buah pada bulan ke-6 merujuk lengkeng Dimocarpus longan termasuk buah dengan umur petik lama, 4-6 bulan dari bunga mekar.

Nyatanya pada umur itu Pouteria sapota belum juga matang. Kejadian pada 2004 itu membuat Prakoso penasaran dan mencari informasi di dunia maya. Secuil informasi pun didapat, buah mamey sapote matang umur 9 bulan dari bunga.

Sangat padat

Sarjana Hukum pencinta tanaman buah itu lantas mengamati dan menghitung umur buah dengan memberi tanda. Benar saja, umur 9 bulan tanda-tanda matang muncul. Kulit di pangkal buah dekat tangkai mulai retak. Jika permukaan kulit buah dilukai dengan kuku tampak permukaan berwarna cokelat. ‘Bila masih hijau buah belum cukup matang,’ katanya.

Meski demikian, daging buah masih keras. Prakoso memetik dan memeram buah dalam suhu kamar. Tiga hari diperam, daging menjadi empuk. Bak menunggu kelahiran bayi, akhirnya setelah 9 bulan Prakoso bisa menikmati mamey sapote.

Menurut Edhi Sandra, pakar fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, daging buah mamey sapote padat dan keras sehingga proses pematangan lama. ‘Semakin tinggi kerapatan sel penyusun daging buah, maka makin besar jumlah energi yang diperlukan untuk matang,’ katanya.

Edhi juga menduga mamey sapote kaya karbohidrat kompleks seperti pati atau amilum. Buah lama matang karena proses pengubahan karbohidrat kompleks menjadi gula lebih sulit ketimbang karbohidrat sederhana, seperti fruktosa, galaktosa, sukrosa, dan laktosa. Dugaan Edhi memang belum diuji di laboratorium. Namun, tekstur mamey sapote mirip ubi yang kaya pati.

Klimaterik

Prakoso sengaja meninggalkan beberapa buah berumur 9 bulan tetap menggantung di batang. Ia berharap buah bisa matang pohon. Harapan itu musnah lantaran buah tua jatuh dengan kondisi keras. ‘Meski sudah 5 tahun berbuah, saya belum pernah jumpai mamey sapote matang pohon,’ ujar penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, itu.

Dr Ir Setyadjit MAppSc, peneliti buah dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Jawa Barat, menduga mamey sapote tergolong buah klimaterik. Artinya, buah mampu memproduksi etilen dalam jumlah besar untuk memicu kematangan. Etilen itulah yang mempercepat pengubahan karbohidrat menjadi gula, melunakkan daging buah, dan memecah klorofil kulit buah.

Buah klimaterik lazimnya kaya pati. Contohnya alpukat, pisang, mangga, dan apel. Karakter itu beda dengan jeruk, anggur, semangka, rambutan, dan buah nonklimaterik lain. Rasa manis buah nonklimaterik berasal dari sintesis tanaman membentuk gula. Pada buah klimaterik gula berasal dari perombakan pati.

Makanya tindakan Prakoso memetik mamey sapote lalu menyimpan dalam suhu kamar 20-30oC tepat. ‘Luka pada tangkai buah karena bekas petikan memicu produksi etilen,’ kata Setyadjit. Produksi etilen menurun pada suhu di atas 30oC dan berhenti pada suhu 40oC. Oksigen berlimpah pun menurunkan produksi etilen pada buah klimaterik. Makanya buah diperam di wadah tertutup agar oksigen minim.

Sepanjang tahun

Menurut Setyadjit, tangkai buah pada tanaman tertentu sangat peka etilen. Saat produksi etilen meningkat, tangkai buah sangat mudah patah. Apalagi jika tangkai buah kecil dan buahnya besar. Namun, bukan berarti buah klimaterik mustahil matang pohon. Buktinya pada pisang dan mangga sering dijumpai matang pohon.

Toh Prakoso justru tetap menikmati lamanya buah menempel di pohon. ‘Pohon jadi terlihat lebat terus-menerus,’ katanya. Setiap satu buah berukuran sekepal atau umur 2-3 bulan disusul buah baru sebesar kelereng. Pada tanaman berumur 7 tahun, ada 30 buah muncul bersamaan. Dan yang pasti, kini Prakoso tak pernah lagi kecele memanen mamey sapote. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Ari Chaidir)

Sumber:trubus-online.coid

Mei 16, 2009 at 3:03 am Tinggalkan komentar


Surga Buat Ayah
Oleh trubusid_admindb
Jumat, Mei 01, 2009 08:10:03 Klik: 281 Kirim-kirim Print version

Demi sang ayah di Bengkayang, Kalimantan Barat, Jerry Suwanto membuka 1 ha kebun di Karanganyar, Jawa Tengah. ‘Bila tak ada kebun, Ayah tak mau menengok kami, anak-anaknya,’ kata bungsu dari 11 bersaudara itu. Delapan tahun berselang kebun yang dibuka pada 2000 itu menjadi surga durian di kaki Gunung Lawu.

Surga durian layak disematkan pada kebun Ndeso Buah di Desa Sewurejo, Mojogedang, Karanganyar. Di lahan berketinggian 600 m dpl itu berbaris rapi 45 monthong dan 20 chanee. Durian asal Thailand itu ditanam dengan jarak tanam 10 m x 10 m. Durian lokal seperti sunan (28 pohon), petruk (10 pohon), dan sitokong (13 pohon) pun tumbuh subur. ‘Total jenderal kami punya 116 pohon,’ kata Jerry, alumnus desain interior dari Universitas Trisakti, Jakarta itu.

Menurut Jerry durian dipilih karena sang ayah, almarhum Cen Chin Chong, kerap merawat durian hutan yang banyak tumbuh di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sebalo. ‘Durian lokal asal sungai itu sangat terkenal. Banyak durian lokal yang dikirim ke Malaysia. Makanya ayah baru mau ke Pulau Jawa bila ada kebun durian,’ kata kelahiran Bengkayang 43 tahun silam itu. Dibantu 10 kakaknya Jerry lantas membuka kebun.

Setelah kebun itu ditanami durian, Aten-panggilan Chen Chin Chong-baru mau berkunjung ke Pulau Jawa. Saking betahnya selama sebulan Aten tinggal di kebun merawat tanaman. Sayang, kebun keluarga itu hanya dikunjungi Aten sekali. ‘Sekembalinya ayah ke Kalimantan, Tuhan memanggilnya,’ ujar Jerry. Toh, bagi Jerry, kebun itu bukti cinta dan bakti anak-anak pada ayahnya.

Durian haoche

Meski Aten telah pergi, durian yang ditanam terus dirawat sehingga tumbuh subur. Saat berumur 4-5 tahun durian belajar berbunga. Namun, semua bunga dirontokkan agar pertumbuhan vegetatif tidak terhenti. ‘Takut tanaman stres, makanya belum dibuahkan,’ kata mantan kolektor burung pipit itu. Saat tanaman berumur 6 tahun, belajar dibuahkan, tapi hanya 1-2 buah per pohon. Baru pada umur 7 tahun tanaman dibiarkan berbuah optimal. Dari 116 pohon dipanen 1.000 butir pada musim durian 2007.

Sejak panen perdana itulah Ndeso Buah dikenal sebagai surga durian. ‘Banyak kenalan kakak dan kenalan saya datang. Mereka membeli durian jatuhan,’ kata Jerry. Dari para kenalan itulah kebun kian dikenal dari mulut ke mulut. Saat Trubus berkunjung ke Karanganyar pada penghujung Desember 2008, 3 mobil dan 2 motor tengah terparkir. Kebanyakan pengunjung ialah keturunan Tionghoa yang ingin mencicip durian haoche (lezat). Mereka berasal dari seputaran Solo, bahkan Surabaya, Jawa Timur.

Sayang, tak semua pengunjung bisa mencicip buah. ‘Kami hanya menjual durian jatuhan. Jadi bila tak ada durian yang jatuh mereka pulang dengan tangan hampa,’ kata Jerry. Toh, para pengunjung bisa mengobati kecewa dengan berkeliling kebun melihat buah monthong dan chanee yang muncul di dekat permukaan tanah. Sedangkan buah durian lokal seperti sukun dan sitokong diatur agar berbuah di dekat batang. Buah-buah itu diikat tali rapia agar tidak jatuh saat lepas dari tangkai karena matang.

Menurut Dr Moh Reza Tirtawinata MS, buah yang muncul dekat permukaan tanah atau dekat batang menghasilkan kualitas buah baik (baca Delapan Inovasi Paling Top: Adopsi Teori Newton pada Buah, Trubus Maret 2009 hal 42-45). Durian di kebun Jerry, daging buahnya seragam manis, kering, dan lembut. Tercatat sebanyak 1.500 buah dipanen pada musim 2008-2009. Menurut Prakoso Heryono, kolega Trubus yang menemani kunjungan ke Karanganyar, kebun Jerry menjadi contoh kebun keluarga yang berevolusi menjadi kebun wisata.

Beragam buah

Sejatinya kebun itu tak melulu berisi durian. Jarak tanam lebar, 10 m x 10 m, membuat kebun masih lapang. Di sela-sela durian itulah Jerry menanam jeruk, lengkeng, rambutan, kapulasan, dan lada. Jeruk yang ditanam ialah jeruk sambas dan tawangmangu. Lengkeng aroma durian dan itoh. Sedangkan rambutan berasal dari Malaysia: king kuning dan king merah. Untuk kapulasan dan lada berasal dari tanah kelahiran.

Selain beragam tanaman buah itu, Jerry mulai memproduksi bibit durian monthong. ‘Itu untuk dibagi-bagikan,’ kata Jerry. Dua tahun lalu ia membagikan 3.500 bibit monthong ke warga sekitar. Tujuannya untuk mengembalikan desa sekitar sebagai sentra durian. Desa Sewurejo, misalnya dikenal sebagai sentra durian lokal. Hanya saja tidak ada jenis yang benar-benar unggul.Pembagian bibit pun mencegah pencurian.

Kini setiap akhir pekan Jerry dan keluarga besarnya menghabiskan waktu di kebun. Pesan ayahnya untuk membuka kebun mulai menuai hasil. ‘Hubungan dengan keluarga kakak terus terjalin. Pemasukan dari durian pun datang,’ katanya. (Destika Cahya)

Mei 16, 2009 at 2:59 am Tinggalkan komentar

Asam Bersisik dari Pulau Timah


Berkali-kali Huschen Ahmad bolak-balik Jakarta-Bangka, bagasinya wajib terisi manisan kelubi. Olahan Buah khas Pulau Bangka itu pesanan Maria Ulfa, putrinya. Tanpa kelubi Huscen tak berani menginjakkan kaki di Jakarta.

Di kediaman Huschen Ahmad di Palmerah, Jakarta Selatan, manisan kelubi disimpan di lemari pendingin. Dalam waktu 3 hari, 800 g manisan ludes dikonsumsi Maria. Maklum, jika ada manisan kelubi mahasiswa Universitas Bina Nusantara itu bolak-balik membuka lemari pendingin dan mencomot satu demi satu buah yang rasanya asam itu. ‘Rasanya asam, tapi menyegarkan,’ kata gadis berusia 19 tahun itu.

Pantas Maria selalu memesan kelubi bila Huschen ke Bangka. Kelubi Eleiodoxa confertabanyak tumbuh liar di hutan di sekitar mata air dan rawa di Pulau Timah. Kerabat salak itu adaptif di lahan berkadar air tinggi. Trubus melihat kelubi di hutan di pinggiran Desa Kace, Kecamatan Mendobarat, Kota Pangkalpinang, Bangka-Belitung. Anggota keluarga Arecaceae itu hidup berdampingan dengan nipah, pandan, dan sagu.

Sebetulnya kelubi juga tersebar di Sumatera (Lampung, Sumatera Selatan, dan Riau) serta Kalimantan (Kalimantan Timur). Di Riau ia biasa disebut asam paya. Di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, kelubi dipakai untuk campuran sambal terasi. Di Kalimantan Timur kelubi diolah sebagai manisan seperti di Bangka. Sedangkan di Jawa, buah itu tak populer. ‘Saya belum pernah menemui kelubi di Jawa. Kemungkinan ia tak menyebar sampai ke Jawa,’ kata Tri Sudarsono, ahli salak dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu.

Kembaran salak

Sekilas, pohon dan buahnya mirip salak Salacca zalacca. ‘Saking miripnya, kelubi sempat masuk genus Salacca, kemudian direvisi ke genus Eleiodoxa karena bunga berbeda dengan salak,’ kata Gregori Garnadi Hambali, ahli salak dari Bogor. Bunga salak merupakan bunga aksiler atau muncul dari ketiak daun. Sedangkan bunga kelubi tergolong bunga terminal yang muncul dari ujung batang.

Buah muncul di bagian bawah tanaman dari ujung batang yang sangat pendek, bukan dari ketiak daun seperti salak. Maklum, batang kelubi memang pendek. Makanya ia digolongkan palem-paleman tak berbatang. Berbeda dengan salak dan sagu yang berbatang panjang.

Duri kelubi juga berbeda dengan salak. Duri salak berwarna hitam dan tersebar merata di seluruh batang, sedangkan duri kelubi putih gading dan muncul berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 8-10 duri dengan panjang 3-4 cm yang berbaris horizontal di salah satu sisi batang. Susunan duri itu mirip dengan duri sagu. Daunnya pun saru dengan daun sagu.

Buah kelubi lebih kecil daripada salak, berdiameter 3-5 cm. Buah muncul berkelompok dalam tandan. Satu tandan besar berisi 300-400 buah. Tandan besar tersusun dari tandan-tandan kecil yang berisi sekitar 25-40 buah.

Kulitnya bersisik berwarna kuning gading saat masih muda dan berubah cokelat saat matang. Tekstur kulit keras dan lebih tebal daripada kulit salak. Jika tak ingin luka, jangan mengupas dengan tangan. Ia biasa dikupas menggunakan pisau.

Sayang, kembaran salak ini menyimpan rasa asam dan sepat. ‘Tak cocok buat buah segar, hanya wanita hamil yang menyukainya. Mereka mencampurnya dengan garam,’ kata Hendra Kusnadi SP, kepala seksi pelayanan teknis Balai Proteksi Tanaman Bangka Belitung yang menemani Trubus ke lokasi kelubi.

Direndam 3 minggu

Oleh masyarakat Bangka, kelubi asam itu diolah menjadi manisan. Di saat musim-Januari hingga Juni-kelubi matang dan setengah matang dikupas dengan pisau lalu dicuci. Kelubi lalu direndam dalam larutan gula dan garam. Untuk 15 kg buah, dibutuhkan 3 kg gula pasir dan 200 g garam yang dilarutkan dalam 6,5 liter air. Lama perendaman 2-3 minggu.

Setelah direndam buah dipisahkan dari larutan awal lalu dimasukkan dalam kemasan toples plastik. Larutan gula dan garam yang baru ditambahkan ke dalam toples. Rasa buah memang masih masam, tapi tak terlalu kuat.

Manisan itu tak pernah absen dipajang di toko oleh-oleh khas Bangka, bersanding dengan kerupuk udang, terasi, pilus, dan lempok durian. Di sana manisan dalam toples dengan bobot 800 g dibandrol Rp25.000. Menurut Abong, pemilik toko Aneka Citra Snack di Pangkalpinang, permintaan kelubi meningkat pada musim liburan. Saat itu setiap bulan 50-100 kg manisan kelubi terserap pelanggan yang membawanya ke Pulau Jawa dan Sumatera.

Manisan Bangka itu dapat disimpan selama 6 bulan. ‘Karena itu tahan meski diperdagangkan antarpulau,’ kata Suij Tyin, pengolah kelubi di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Itulah pula yang menjelaskan kelubi selalu tersedia di toko oleh-oleh sepanjang tahun meski produksi buah dari hutan musiman. (Nesia Artdiyasa)

Sumber:trubus-online.co.id

Mei 16, 2009 at 2:56 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.